BOJONEGORO – Pendidikan lingkungan bukan sekadar teori tentang membuang sampah pada tempatnya, melainkan tentang bagaimana mengubah pola pikir bahwa barang bekas adalah sumber pengetahuan yang tak terbatas. Semangat inilah yang terpancar dari siswa kelas 5 SD Muhammadiyah 2 (Mudabo) Bojonegoro. Melalui pendekatan pembelajaran mendalam, mereka membuktikan bahwa kepedulian terhadap bumi dan pemahaman sains yang tajam dapat lahir dari gelas plastik bekas dan kotak sepatu yang tak lagi terpakai.
Selama dua pekan berturut-turut, Rabu (22/4) dan Rabu (29/4), para siswa terlibat aktif dalam eksperimen pembelajaran IPAS bertajuk “Misteri Perambatan dan Frekuensi Bunyi”. Di bawah bimbingan Ustadzah Niswatun Khasanah, S.Pd., M.Pd., kegiatan ini dirancang untuk mengasah kemampuan inkuiri siswa sekaligus mendukung pilar Sekolah Adiwiyata melalui pemanfaatan limbah domestik secara kreatif.
Eksperimen Bermakna: Dari Telepon Kaleng hingga Gitar Kotak
Pada pekan lalu, suasana kelas berubah menjadi laboratorium komunikasi saat siswa memanfaatkan gelas plastik bekas minuman dan gelas kertas bekas untuk membuat telepon sederhana. Dengan media tali kasur dan benang wol, siswa berhasil menganalisis bagaimana bunyi merambat melalui medium padat. Murid juga belajar tentang esensi kerja sama tim dalam memecahkan masalah saat eksperimen berlangsung.


Puncaknya terjadi pada hari ini, Rabu (29/4). Siswa ditantang untuk membuat alat musik petik menggunakan kotak sepatu bekas. Melalui metode Guided Inquiry, Ustadzah Niswa mengajak murid-muridnya untuk:
- Membuktikan pengaruh tegangan benda terhadap frekuensi bunyi.
- Menjelaskan peran vital kotak resonansi pada alat musik.
- Menerapkan konsep amplitudo secara praktis.
Inovasi Pembelajaran yang Berkelanjutan
Penggunaan media barang bekas ini adalah upaya sekolah untuk memberikan pengalaman belajar yang nyata tanpa mengesampingkan tanggung jawab terhadap lingkungan.
“Melalui deep learning, kita ingin siswa tidak hanya menghafal definisi bunyi, tapi merasakan langsung prosesnya. Dengan menggunakan kotak sepatu dan gelas bekas, mereka juga belajar bahwa setiap individu memiliki peran dalam menjaga kelestarian alam melalui prinsip Reuse,” ujar Ustadzah Niswa.
Antusiasme siswa terlihat jelas saat mereka berhasil memetik “gitar” buatan sendiri yang menghasilkan suara yang jernih. Senyum bangga para siswa saat alat musik dari barang bekas mereka berfungsi dengan baik menjadi bukti bahwa pembelajaran yang menyenangkan dan ramah lingkungan adalah kunci untuk melahirkan generasi yang cerdas sekaligus bijak terhadap alam.
SD Mudabo akan terus berkomitmen mengintegrasikan nilai-nilai Adiwiyata ke dalam setiap mata pelajaran, menjadikan sekolah bukan hanya tempat menuntut ilmu, tetapi juga wadah persemaian karakter peduli lingkungan yang berkelanjutan.









